Home / OPINI

Sabtu, 25 Desember 2021 - 21:56 WIB

Pemuda dan Masa Depan Islam

Mendengar kata pemuda, sejatinya kita pasti berasumsi dengan suatu hal yang tidak dapat terlepas dari agama dan masa depan islam saat ini. Karena pemuda adalah golongan yang sangat memengaruhi suatu bangsa dan agama. Dimana bangsa akan bersatu, agama akan maju jika pemudanya berhasil mencetak kader-kader pemimpin yang qur’ani yang tidak hanya pandai dalam bidang Iptek akan tetapi paham akan hukum agama Allah SWT. Begitulah harapan agama islam terhadap pemuda penerus masa depan islam. Masa depan bangsa ditentukan oleh para generasi muda, karena generasi muda yaitu ujung tombak kemajuan dan pembangunan bangsa. Generasi muda dengan fisiknya yang kuat, pengetahuan yang inovatif, dan kreativitas yang tinggi disebut sebagai aktor pembangunan. Baik buruknya suatu negara dan agama bisa dinilai dari kualitas pemuda yang ada di negara tersebut.

Namun, mirisnya pemuda Islam saat ini sangat terbalik dari apa yang dicita-citakan agama. Dimana pemuda yang seharusnya menjadi sosok panutan bagi generasi yang akan datang malah sebaliknya. Hal ini dikuatkan dengan nyatanya permasalahan yang timbul diakhir akhir ini. Seperti dalam bidang ekonomi yang sistem keuangan riba, yang diharamkan Allah masih mendominasi kehidupan. Akibatnya, makin lebar jurang antara si kaya dan si miskin. Dalam lapangan sosial budaya, kita disuguhi kebobrokan moral generasi muda masa kini. Setiap hari kita menyaksikan beragam kemaksiatan seperti, kemusyrikan, perzinaan, pembunuhan, kasus narkoba dan sebagainya. Beginikah islam yang kita harapkan? Islam yang hanya menyisakan puing-puing sejarah yang begitu hebat dimasa kelam.

Tentunya kita sangat prihatin dan sangat menyesal dengan hidup jahili (yang diharamkan) itu yang melingkupi sebagian besar umat Islam. Fenomena ini persis seperti yang pernah disinyalir Rasulullah SAW. Beliau bersabda yang artinya: “Tidak akan terjadi kiamat sebelum umatku mengikuti jejak umat beberapa abad sebelumnya, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta”. Ada orang yang bertanya, “Ya Rasulullah, mengikuti orang Persia dan Romawi?” Jawab Beliau, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Al- Bukhari dari Abu Hurairah). Maknanya “Sesungguhnya kamu akan mengikuti jejak orang-orang yang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, bahkan kalau mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kamu mengikuti mereka”. Kami bertanya, “Ya Rasulullah, orang Yahudi dan Nasrani?” Jawab Nabi, “Siapa lagi?” (HR. Al-Bukhari dari Abu Sa`id Al-Khudri).

Hadist tersebut menggambarkan suatu zaman di mana sebagian besar umat Islam telah kehilangan kepribadian Islamnya karena jiwa mereka telah terisi oleh jenis kepribadian lain. Mereka kehilangan gaya hidup hakiki karena telah mengadopsi gaya hidup jenis lain. Kiranya tak ada kehilangan yang patut ditangisi selain dari kehilangan kepribadian dan gaya hidup Islami. Sebab apalah artinya mengaku sebagai orang Islam kalau gaya hidup tak lagi Islami malah persis seperti orang kafir? Inilah bencana kepribadian yang paling besar.

Baca juga  Buku Aksara Warna Pidie Resmi di Luncurkan

Menyimak keadaan yang kita sebutkan tadi, kita jadi ingat firman Allah surat Ar- Ruum ayat 41: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena ulah perbuatan tangan nafsu manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Rasa-rasanya, firman Allah ini benar-benar cocok dengan yang kita alami sekarang. Orang tua sering tidak paham dengan perubahan yang terjadi pada remaja sehingga tidak jarang terjadi konflik di antara keduanya. Karena merasa tidak dimengerti remaja seringkali memperlihatkan tindakan agresif yang dapat mengarah pada perilaku berisiko tinggi.

Dalam surat an-Nisa ayat 9 Allah SWT berfirman yang maknanya: Hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. Ayat ini khithobnya (sasarannya) adalah kepada generasi yang lebih tua.

Hendaklah generasi tua memikirkan nasib generasi muda, keberlangsungan masa depan mereka juga masa depan agama mereka. Bagi para kawula muda dan para remaja ayat ini juga menjadi sandaran dan pijakan kuat bahwa Al-Qur?an memandang masa muda itu tidak ringan. Masa muda dan remaja itu penuh dengan tantangan. Kata dhi`aafa (lemah) dalam ayat di atas tentu berdimensi luas. Mencakup berbagai aspek kehidupan, khususnya lemah dalam hal meneruskan perjuangan generasi tua.

Makna lemah yang pertama adalah akidahnya. Ini tentu yang paling utama, yaitu hendaklah generasi tua mawas diri seandainya meninggalkan generasi muda yang lemah akidahnya. Kita umat Islam jangan sampai meninggalkan generasi yang goyah imannya.

Karena kalau goyah pada dimensi pertama ini, maka hidup ini tidak ada artinya menurut pandangan agama. Karena diutusnya para Nabi atau Rasul itu adalah untuk membentengi akidah umatnya. Pada Rasul itu hampir tidak ada yang menonjolkan ilmu pengetahuan, meskipun mereka ahli ilmu pengetahuan. Nabi Dawud adalah orang yang ahli dalam bidang konstruksi baja (besi), tetapi dia menonjolkan dakwah ilahiyahnya. Pendekatan utama dakwahnya adalah lewat pondasi iman dan akidah, baru selanjutnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

Makna lemah yang kedua adalah lemah mental dan fisiknya. Jangan sampai generasi muda kita punya fisik yang lemah, rentan terkena penyakit. Maka ini adalah tanggung jawab generasi tua ketika mereka dalam masa pertumbuhan untuk menyiapkan generasi muda yang sehat fisiknya, sehat ekonominya dan juga sehat secara pendidikan. Tantangan pemuda Islam saat ini yang terberat adalah tantangan secara kultural. Karena perkembangan Iptek saat ini telah membuat pemuda kita mudah goyah. Iptek membuat kemajuan luar biasa keseluruhan dimensi kehidupan, dimensi sosial, budaya, ekonomi dan sebagainya.

Baca juga  KAMMI Aceh Minta Presiden Evaluasi Kinerja Menag Yaqut.

Perkembangan Iptek secara tidak langsung membawa tantangan kepada pemuda kita. Dari situasi ini seringkali yang muncul krisis identitas. Terjadi kelemahan kultural karena mereka tidak mau menunjukkan identitas sebagai seorang muslim dan bahkan mereka merasa malu dan enggan untuk menampakkan identitas sebagai generasi muslim. Ini yang harus kita waspadai sebagai orang tua. Faktor yang menjadi pemicu krisis identitas kultural adalah lemahnya pemahaman akan agama Islam. Anak-anak kita seringkali hanya terfokus pada studi di sekolah saja dan melupakan tugas utamanya sebagai seorang muslim yaitu mengaji. Menuntut ilmu bukan hanya sekedar di bangku sekolah formal. Mengaji, mengikuti majelis taklim atau sekedar menyempatkan beberapa menit untuk mendengarkan dakwah adalah salah satu cara kita dalam dalam memahami agama.

Makna lemah yang ketiga adalah lemahnya skill para pemuda muslim. Keterbatasan atau ketidakmampuan dalam skill membuat banyak pemuda Islam goyah dalam hidupnya. Kalau sudah goyah, ini akan membahayakan mental pemuda kita. Dalam situasi yang sudah mengglobal dan sangat kompleks seperti sekarang, akan sangat rentan bagi pemuda terseret dalam kerapuhan iman. Dan yang lebih penting saat ini adalah bagaimana kita turut membantu mengembangkan skill dan menumbuhkan jiwa entrepreneur dalam diri setiap pemuda muslim. Bukankah Rasulullah sendiri adalah suri teladan yang nyata bagi umat Muslim untuk mengembangkan jiwa entrepreneurship dan leadership? Sehingga dampak dari kelemahan iman dan mental berujung kepada penggunaan narkoba, mengonsumsi alkohol, pemakaian busana yang menonjolkan aurat, hamil diluat nikah sehingga berakibat aborsi, kecanduan game online, hingga perubahan ideologi.

Oleh karena itu mungkin setiap permasalahan yang terjadi hari ini hendaklah menjadi pelajaran bagi kita semua agar senantiasa memperbaiki diri dan belajar bagaiman kondisi agama Allah ini. Karena Allah telah berjanji kepada kita sebagai seorang pemuda lewat firmannya dalam surah Muhmmad ayat 7 yang artinya “Wahai oarang orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan menuduhkan kedudukannmu”. Massa depan islam adalah tanggung jawab kita pemuda terhadap agama Allah. Dimana hari ini merupakan cerminan untuk hari esok yang lebih baik. Dan kita sebagai pemuda adalah dalangnya, dimana nantinya baik atau buruknya suatu agama, bangsa, dan negara kita sendiri yang yang akan mengukir sejarah untuk massa yang akan datang.

Penulis : Muhammad Zulfazaki Instansi, Universitas Syiah Kuala

Share :

Baca Juga

OPINI

Peran Pemuda Dalam Mencetak Peradaban

INSPIRASI

SHORT TRAINING KOMPETENSI PENCAMPUR PAKAN DAN FARM UNGGAS PETELUR

OPINI

Pemberdayaan Pemuda Melalui Pengembangan Literasi dan Diskusi Guna Mencetak Generasi Unggul di Masa Depan

NEWS

Silaturrahmi Ulama Seluruh Aceh Tahun 2021, Lahirkan Rekomendasi Peran Ulama Dalam Perbaikan Politik di Aceh

OPINI

Memaksimalkan Peran Pemuda Madani di Era Pandemi Covid-19 Untuk Menyelamatkan Masa Depan Islam di Indonesia

NEWS

Anak Gugat Ibu Kandung, Nasir Djamil Sarankan Mediasi

OPINI

Negeri Tanpa Pemuda “Ilmu itu ada dimana-mana tersebar, kalau kita bersedia membaca, dan bersedia mendengar.” -Felix Siauw

NEWS

KAMMI Aceh Minta Presiden Evaluasi Kinerja Menag Yaqut.